
CAHAYASIANG.ID, JAKARTA – Setelah Airlangga Hartanto mengundurkan diri sebagai Ketua Umum Golkar, sejumlah nama mulai dimunculkan sebagai sosok yang dianggap pantas meneruskan kepemimpinan di tubuh Partai Golkar.
Ada beberapa nama yang mencuat satu diantaranya adalah Pangeran Cendana Tommy Soeharto. Menurut pengamat sosial budaya,politik dan hukum Agus Widjajanto, Tommy layak menjadi calon Ketum partai Golkar karena dilihat dari historinya.
“Pertama, putra Presiden ke-2 RI Soeharto itu diketahui tidak haus dengan kekuasaan. Selama 20 tahun terakhir, alih-alih masuk dan bermain dalam pusaran kekuasaan, Tommy lebih fokus menjalankan dan membesarkan bisnis. Alasan kedua, Tommy layak meneruskan kepemimpinan Airlangga Hartarto. Sebab, orang tua Tommy Soeharto, yakni Soeharto merupakan tokoh pendiri Partai Golkar yang dalam sejarah pendiriannya identik dengan berdirinya Orde Baru dan bapaknya telah membesarkan Partai Golkar,” ujar Agus belum lama ini.
Selain itu, Agus berharap Tommy Soeharto dapat mengembalikan marwah Partai Golkar dan terakhir yang bersangkutan merupakan tokoh politik yang tidak tersandera kasus dugaan tindak pidana korupsi.
“Sebab, mempunyai Historis Sejarah yang panjang serta masih punya basis masa yang kuat di akar rumput.
Saat ini tergantung pada DPD di seluruh Indonesia bersepakat untuk mencari tokoh pembaharu yang diharapkan mengembalikan muruah partai sebagai partai yang sarat akan kekaryaan berbasis nasionalis, tetapi religius yang pengkaderannya telah matang secara konsolidasi dari bawah ke atas.” sebut Agus.
Ditambahkan oleh Prof Dr I Gede Pantja Astawa, Politik harus berani menghadapi itu semua.
“Kalau saya sebagai Mas Tommy misalnya, saya berani maju. Mengapa tidak? Karena kekurangan masa lalu tidak mewarisi ke anak. Ambil kelebihan bapaknya, tetapi kekurangannya jangan. Sudah pantas dan wajar jikalau Golkar harus jatuh dan dipimpin oleh keluarga cendana yakni salah satu putra mantan Presiden Soeharto.” tutur Prof Pantja.
Partai Golkar sendiri, dahulu bernama Sekber Golongan Karya dibentuk pada tanggal 20 Oktober 1964 oleh Soeharto dan Suhardiman. Tentunya mempunyai ikatan sejarah yang sangat erat dengan keluarga Cendana sebagai pendiri.
Ini yang harus dipahami oleh fungsionaris Partai Golkar, tentu sebagai orang politikus juga tentu harus mempunyai rasa hormat terhadap pendirinya, yang ironisnya saat ini keluarga Cendana justru tidak satupun menjadi pengurus di partai berlambang pohon Beringin tersebut.
“Sang pangeran Cendana sudah 20 tahun digebukin secara politis, diperlakukan sebagai pihak yang dianggap lawan politik yang harus diadang dari berbagai lini. Padahal Partai Golkar adalah sebuah Legaci dengan mantan presiden Soeharto,” tutup Agus Widjajanto. (*Red)






