CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Sekjen Partai Golkar 2009-2018 Idrus Marham kembali buka suara terkait inkonsistensi arah dukungan dan langkah politik yang diciptakan Airlangga sangat aneh sekaligus membingungkan.
Idrus Marham mengatakan, ada pernyataan dari beberapa DPD 1 menyatakan aspirasi dukungan untuk bekerja sama dengan Partai Gerindra.
“Inikan sesuatu yang menurut pandangan saya, ini adalah sebuah akrobatik politik. Kalau menarik garis lurus apa yang dibicarakan dengan Mbak Puan itu dimatangkan disapa sebagai masukan kepada tim teknis, tapi kan ini tidak, malah ada pernyataan-pernyataan lain,” kata Idrus Marham, Selasa (1/8/23).

Eks Ketua Panitia Khusus Hak Angket Bank Century itu juga menambahkan, Kalau ini dimaknai sebagai akrobatik politik sangat disayangkan.
“Karena pasti ini akan mengganggu keharmonisan komunikasi politik untuk produktif. Jadi ini mengganggu keharmonisan, artinya teman-teman dari PDI-P yang pada waktu itu Mbak Puan, ingin ada suasana kebatinan yang terbangun,” ujarnya.
SUAKA POLITIK TERKAIT MASALAH AIRLANGGA HARTARTO MENYANDERA PARTAI GOLKAR
Setelah itu, Idrus Marham keras menyinggung Airlangga Hartarto dengan mempertanyakan perihal, Apakah betul langkah-langkah politik yang dilakukan itu adalah untuk membentuk sebuah koalisi politik kedepan, baik menghadapi Pilpres, maupun menghadapi yang lain?
Politisi Senior Partai Golkar tersebut, kembali melempar pertanyaan, Atau kiri-kanan lalu yang di inginkan sebenarnya adalah suaka Politik?
“Kalau koalisi politik berarti institusi yang main, tetapi kalau berbicara tentang suaka politik. Mungkin saja kalau suaka politik itu ada kaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh ketua umum,” jawabnya.
“Baik di Kejaksaan maupun KPK, tentu ada juga masalah pidana umum dan lain-lain sebagainya. Kalau ini yang terjadi sangat disayangkan berarti dan indikasinya kuat, maka langkah-langkah cenderung sebagai akrobatik politik, dalam rangka mendapatkan suaka politik berarti telah menyandera Partai Golkar,” sambungnya.
BERBAGAI KASUS YANG MENYANGKUT AIRLANGGA
Idrus Marham menegaskan, Saudara Airlangga dengan berbagai kasus yang ada.
“Kita sudah tahu bagaimana misalkan masalah Minyak, bagaimana masalah Biji Besi, Kemudian juga bagaimana masalah Garam, kemudian ada menyangkut Kartu Prakerja, kemudian BTS,” jelasnya.
Dia juga memaparkan, Disini saja disebutkan ada empat hingga lima kasus.
“Dan tentu tidak mungkin ini muncul, kalau tidak ada yang menyebut dalam proses pemeriksaan,” lanjutnya. (Dego)






