CAHAYAIANG.ID, Manado – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun2026, anggota Komite III DPD RI, Dra. Adriana Charlotte Dondokambey, M.Si, berkomitmen memastikan dan mengawal arah kebijakan pemerintah di bidang Pendidikan yang terimplementasi secara konkret hingga ke pelosok Bumi Nyiur Melambai.
Dalam refleksi Hardiknas tahun ini, ia menyoroti sinkronisasi program prioritas pusat dengan kebutuhan riil siswa dan guru, khususnya di Sulawesi Utara. Adriana mengatakan, revitalisasi sekolah tidak boleh hanya menyentuh aspek fisik, tapi juga fungsi sekolah sebagai pusat literasi.
“Pendidikan di Sulut harus mampu memanfaatkan seoptimal mungkin program digitalisasi pembelajaran dari Kemendikdasmen, misalnya ketersediaan akses gratis jurnal dan e-book bagi seluruh siswa, terutama para penerima PIP yang tidak mampu membeli buku fisik. Juga revitalisasi perpustakaan sebagai ruang kreatif yang menyediakan fasilitas multimedia, sehingga literasi tidak lagi membosankan bagi para generasi Z dan Alpha” ujar Adriana.

Lanjutnya, terkait upaya peningkatan literasi di era kecerdasan buatan, pemerintah dalam hal ini Kemendikdasmen perlu melakukan pemerataan infrastruktur digital agar siswa khususnya di Sulawesi Utara mampu bersaing secara global.
“Literasi digital yang kuat sangat dibutuhkan menghadapi disrupsi Artificial Intelligence (AI). Sehingga, kementerian serta Pemda harus memastikan peserta didik di Sulut memiliki akses terhadap perangkat dan kuota edukasi, agar tidak ada lagi ‘gap’ kemampuan digital antara anak kota dan anak desa,” ungkap senator Sulut ini.
Mantan anggota DPR RI Komisi X bidang Pendidikan ini, juga menyoroti soal masih banyak sekolah di wilayah kepulauan dan pedalaman yang sangat membutuhkan sentuhan perbaikan sarana.
“Tahun anggaran 2026, pemerintah pusat mengalokasikan bantuan revitalisasi untuk Sekolah di Sulut sebanyak 247 unit serta satu unit pembangunan sekolah baru. Padahal data yang ada menunjukan bahwa Sulut mengkoleksi 58 persen TK dan SD yang mengalami kerusakan, 56 persen SMP serta SMA/SMK mencapai 46 persen,” tutur Adriana.
Hal ini menurutnya menunjukan masih banyak unit sekolah yang perlu perhatian pemerintah. Karena itu ia menghimbau agar Pemda juga peduli terkait ini, minimal dapat membantu renovasi ringan ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang laboratorium dan sebagainya.
Soal dana bantuan untuk sekolah dan siswa, Adriana sudah meminta agar setiap pemda memastikan penggunaan dana BOS dan Dana PIP tepat sasaran bagi sekolah, terutama bagi para Peserta Didik. Ini dimaksud agar proses belajar mereka tidak terhambat meski berbagai fasilitas infrastruktur mungkin sementara diupayakan oleh pemerintah ditengah berbagai keterbatasan anggaran.
“Saya akan membahas semua hasil pengawasan terhadap pelaksanaan PIP sebagai jaring pengaman pendidikan dalam rapat kerja dengan BPK RI. Tahun ini sinkronisasi data Dapodik dengan kondisi riil di lapangan masih harus terus diperbaiki guna menghindari sengketa data yang merugikan siswa kurang mampu,” tegas Adriana, yang juga adalah Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Publik DPD RI.
Isu penting lain yang disoroti Adriana yakni kesejahteraan guru. Sebagai pilar utama mutu pendidikan, menurutnya kesejahteraan guru menjadi isu strategis karena guru yang sejahtera adalah kunci utama peningkatan literasi siswa.
“Peningkatan kualitas pendidikan di Sulut mustahil tercapai tanpa memuliakan gurunya. Saya mengapresiasi prioritas Kemendikdasmen pada kesejahteraan guru, saya mendorong agar adanya kenaikan untuk bantuan insentif bagi guru non-ASN menjadi dan kenaikan tunjangan profesi guru (TPG), namun tak kalah pentingnya, saya juga mendorong agar realisasi semua tunjangan tersebut diberikan tepat waktu dan juga dibarengi dengan pelatihan peningkatan kompetensi yang inklusif bagi guru-guru honorer maupun ASN di pelosok Sulawesi Utara,” tandas Adriana.
Menutup percakapan, ia mengapresiasi para guru, dosen dan profesor (guru besar), serta semua insan Pendidikan. “Terima kasih dan apresiasi untuk semua insan Pendidikan khususnya yang berada di Sulawesi Utara. bapak dan ibu guru, dosen serta para guru besar, kalian semua bukan sekedar ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’, tapi juga sebagai arsitek merangkap ‘bas’ untuk masa depan bangsa Indonesia. Semangat Hardiknas kali ini adalah semangat kolaborasi. Dengan merevitalisasi sekolah, mendigitalisasi cara belajar, serta menyejahterakan guru, kita sedang membangun fondasi emas bagi generasi muda khususnya di Sulawesi Utara. Sekali lagi saya tekankan, pendidikan bukan sekadar angka statistik, melainkan suatu investasi kemanusiaan, seperti semangat Dr. Sam Ratulangi ‘Si Tou Timou Tumou Tou’. Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional,” tutup Adriana. (ak)





