
CAHAYASIANG.ID, MANADO — Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir mengingatkan jati diri wartawan yakni seorang pejuang.
“PWI sendiri lahir pada tahun 1946, bersamaan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,” kata Akhmad Munir, pada PWI Sulut Award 2026, di Manado, Sabtu (7/11/2026).
Dia mengatakan saat ini, anggota PWI mencapai hampir 40 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Sejarah panjang itu menjadi bukti bahwa PWI bukan organisasi baru, melainkan bagian dari sejarah bangsa,” katanya.
*Apresiasi untuk PWI Sulut*
Akhmad Munir menyampaikan apresiasi dan kebanggaan yang tinggi kepada PWI Sulawesi Utara yang berhasil menyelenggarakan PWI Sulut Award 2026, meski kepengurusannya belum genap satu tahun.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kerja keras, kekompakan, dan keseriusan pengurus PWI Sulut di bawah kepemimpinan Sintya Bojoh dalam membangun organisasi dan merawat kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Ini luar biasa. Kepengurusan belum setahun, tapi sudah bisa membuat acara sebesar PWI Sulut Award. Ini bukti PWI Sulut bekerja sungguh-sungguh, solid, dan dipercaya oleh banyak pihak,” ujar Munir.
Ia berharap prestasi tersebut menjadi pemicu bagi PWI Sulut untuk terus meningkatkan profesionalisme, memperkuat program organisasi, membesarkan PWI bersama-sama dg PWI provinsi lainnya di Indonesia.
Akhmad Munir memberikan pesan penting tentang peran wartawan bagi pemerintah daerah dan bangsa. Menurutnya, media bukan lawan pemerintah, melainkan mitra strategis untuk memajukan daerah. Bersama para pemangku kepentingan, PWI ikut merawat dan menjaga demokrasi serta mendorong pembangunan agar berjalan dengan baik.
“Kami merasa masih banyak ‘utang’ (kewajiban) yang harus ditunaikan. PWI sebagai wartawan pejuang, PWI harus terus berjuang berkontribusi memajukan bangsa dan negara, melanjutkan nilai historisnya dan nilai kejuangan ini masih relevan sampai saat ini,” kata Munir.
Munir juga menyoroti era media sosial saat ini yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi wartawan. Informasi yang beredar di masyarakat sudah banjir, namun ibarat obat, jika terlalu banyak bisa menjadi racun. Sebab, ada berita bohong, fitnah, dan informasi yang dipelintir bercampur baur di ruang publik.
Namun, ketika masyarakat keracunan berita hoaks, obatnya adalah...


