Menurut Nazar, elektabilitas Moeldoko sebenarnya sangat terlihat dari berbagai acara Musyawarah Rakyat (Musra), di mana menempati urutan atas melebihi lembaga survei.
Moeldoko juga memiliki latar belakang basis militer, berpengalaman di pemerintah serta banyak memberikan keberhasilan dalam memimpin berbagai organisasi.
Selain itu, Moeldoko juga memliki kapasitas ekonomi serta akseptabilitas politik yang luas dan kuat, karena itu berpeluang besar digandeng sebagai kandidat wakil presiden.
“Dalam perspektif demikian, masyarakat bisa memahami mengapa menentukan dan memutuskan figur cawapres di Pilpres 2024 ini berjalan alot, lamban, dan prudent.”
“Sebab, salah memilih cawapres, bisa-bisa figur capres yang selama ini hasil survei elektabitasnya tinggi, menjadi stagnan dan dilewati capres lain dengan pasangan cawapres yang mampu mengkontribusi insentif elektoral yang memadai,” katanya.
Sebelumnya, Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Juri Ardiantoro mengatakan kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Jokowi mencapai 80 persen.
Persentase tersebut merupakan rekor kepuasan tertinggi, di mana terjadi saat Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan lokal maupun global.
Juri menuturkan, setidaknya ada empat isu utama yang menjadi prestasi Jokowi.
Pertama, kemampuan dalam mengendalikan berbagai masalah dan tantangan yang bersumber dari global maupun lokal.
Misalnya, persoalan ekonomi, perlindungan sosial, kesehatan, hingga penegakan hukum.
Kedua, Presiden Jokowi telah membangun Indonesia dengan perspektif Indonesia-sentris melalui pembangunan infrastruktur dan jalur-jalur konektivitas. Seperti pembangunan jalan tol, tol laut, dan infrastruktur lainnya.
“Hal ini menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru, termasuk memindahkan ibu kota negara,” kata Juri.
Isu ketiga yang menjadi pengungkit meningkatnya kepuasan publik dalah profil presiden dinilai sebagai sosok yang mampu memberi harapan tentang masa depan Indonesia. (*Dego)






