
CAHAYASIANG.ID, Sangihe — Suasana tenang di Kebun Sesohe, RT 12 Kelurahan Soataloara II, Kecamatan Tahuna, mendadak berubah pada Jumat (14/11/2025) sore, ketika warga menemukan sesosok mayat perempuan yang kemudian diketahui bernama Aniri Diawang (72), warga Kampung Pusunge, Kecamatan Tabukan Utara.
Penemuan tersebut bermula saat Darwing Lumairo (49), seorang petani setempat, tengah bekerja bersama anak mantunya. Ketika mencari bambu untuk membuat penghalang buah kelapa, Darwing melihat sesuatu yang mencurigakan di bawah kebunnya. Setelah mendekat, ia menyadari bahwa itu adalah sesosok tubuh manusia yang sudah dalam kondisi membusuk. Dengan mengenakan baju hijau bergaris putih.
Mengetahui hal itu, Darwing segera pulang dan memberitahu Yulianti Bermula (43), yang beberapa minggu sebelumnya sempat mencari keberadaan ibunya, Aniri Diawang, yang hilang sejak pertengahan Oktober.
Menurut Yulianti, pakaian yang dikenakan sosok tersebut sama persis dengan pakaian yang dipakai ibunya saat terakhir meninggalkan rumah. Dengan perasaan campur aduk, ia bergegas memberi tahu ayahnya yang tinggal di Kampung Pusunge.
Pihak keluarga menjelaskan bahwa sejak tahun 2009, kedua orang tua mereka sudah tidak tinggal bersama. Aniri sejak itu menetap bersama Yulianti di Dumuhung, Tahuna Timur.

Mendapat laporan penemuan mayat, personel Polres Kepulauan Sangihe bergerak cepat menuju lokasi pada Jumat malam sekitar pukul 21.30 Wita. Setibanya di TKP, polisi menemukan tubuh korban yang telah tinggal kerangka, dengan kondisi kepala terpisah sekitar tiga meter dari badan.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal, jenazah dievakuasi ke rumah keluarga di Kampung Pusunge. Polisi kemudian menawarkan proses autopsi untuk memastikan penyebab kematian, namun pihak keluarga menolak.
“Keluarga korban menyatakan ikhlas dan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah,” demikian laporan dari Satreskrim Polres Kepulauan Sangihe. Ibadah pemakaman pun langsung dilaksanakan malam itu juga.
Hingga saat ini, pihak kepolisian telah melakukan langkah-langkah penanganan mulai dari olah TKP, pemeriksaan saksi-saksi, hingga pembuatan berita acara penolakan autopsi. Situasi di wilayah setempat dilaporkan tetap kondusif.
Meskipun dilanda duka mendalam, keluarga besar almarhumah memilih untuk menerima kejadian ini dengan lapang dada. Kepergian Aniri Diawang meninggalkan kisah pilu, namun juga menjadi pengingat tentang pentingnya kepedulian dan kebersamaan warga dalam menghadapi musibah. (*Anto)





