CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Wakil Ketua 1 Partai Buruh Exco Provinsi Sulawesi Utara, Frans Ekadharma Kurniawan mengatakan, Ketika marketing industri teknologi tinggi mulai terseok-seok akibat Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina mengancam rantai pasokan dan menyeret dunia dalam blok dukungan militer maupun finansial terhadap perang tersebut.

Terbaginya dunia dalam blok tersebut yang pasti bukan lahir dari perang tersebut. Blok ini hadir jauh sebelum konflik Ukraina-Rusia, dan diyakini bahwa adanya blok tersebut lah yang justru memicu konflik lebih dalam dan antagonis.
Membayangkan AI misalnya, sama dengan melihat Pacul yang kemudian diberikan mesin yang bekecerdasaan. Pacul tersebut tak perlu lagi digerakan oleh hasrat manusia. Pacul itu di program oleh kecerdasaan buatan dan segala mesin pendukungnya untuk bekerja secara otomatis menggarap lahan pertanian.
Dengan dukungan teknologi tinggi lainnya yang saling terkoneksi, pacul akan diberi informasi tentang cuaca, kondisi tanah garapan, dan jenis tumbuhan apa yang cocok dengan iklim sekitarnya. Bukankah itu terlihat keren? Dan manusia hanya tinggal menekan tombol “on” tanpa harus berkeringat! Bayangkan, apa yang akan dilakukan manusia ketika waktu luang yang dihasilkan mesin tersebut!
Kembali ke masalah bahaya. Dari bayangan diatas, apa yang salah dari hal tersebut? Alat-alat kerja diciptakan membantu umat manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Begitulah manusia bertahan dari seleksi alam.
Dari alat sederhana jaman purba yang terbuat dari batu, dan pencerahan yang muncul akibat kemampuan manusia membuat api untuk mengawetkan makanan dan melebur logam, terciptalah peradaban, yang kemudian manusia mencatatnya diatas batu sampai ke teknologi yang ada ditangan manusia moderen saat ini.
Batu tetaplah batu sampai kemudian baru tersebut ada ditangan manusia. Batu membantu manusia pra sejarah untuk digunakan memenuhi kebutuhan bertahan hidup. Batu ditangan manusia juga yang terdapat dalam cerita “Kain dan Habel” dalam Injil perjanjian lama sebagai penanda awal bagaimana manusia mengunakan alat-alat kerja.
Saat ini AI masih “bodoh” dan “cukup jauh” dari menciptakan ancaman menurut Presiden Urusan Global Meta Nick Clegg. Tapi sejarah mengisahkan bahwa sebongkah batu bisa sangat “berbahaya” seperti dalam kisah “Kain dan Habel”. Lantas, apakah AI akan “lebih” berbahaya karena “diberikan” kecerdasan? (Ini sama dengan seperti pacul diberikan kecerdasan buatan).
AI maupun batu dan Pacul tak lebih dari alat kerja yang seharusnya membantu umat manusia mengelola sumberdaya yang ada di lingkungannya sebagai sarana dan prasarana bertahan hidup. Kemampuan berpikir umat manusia hasil sejarah panjang melalui seleksi alam yang keras. Proses panjang sejarah manusia lah yang menjadikan semua kecerdasan yang ada saat ini.
Produk sejarah ini bukan hanya alat-alat kerja tapi juga gagasan-gagasan sistem sosial yang tercipta dari awal terbentuknya komunitas-komunitas sosial jaman purba yang perlahan-lahan membentuk peradaban manusia, termasuk isme-isme yang tercermin dalam sistem kepercayaan sampai munculnya agama dan ilmu pengetahuan disisi lainnya.
Ketakutan AI mengkhianati manusia ini mirip kisah agama semit, dimana manusia berkhianat terhadap “Penciptanya”. (Dego*)






