
CAHAYASIANG.ID, Sulut – Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara bulan Oktober 2025 naik sebesar 2,25%, dengan angka 134,24, dibandingkan September lalu, yakni 131,29 berdasarkan data BPS Sulut dirilis 3 November barusan.
Tapi begitu ironis saat melihat kenyataan hari ini, buat beberapa sektor yang seharusnya memberi input positif bagi Petani dan Peternak di Bumi Nyiur Melambai, sebagaimana keinginan Presiden Prabowo Subianto, notabenenya begitu concern terhadap peningkatan kesejahteraan Para Pahlawan Pangan negeri.
Contohnya pada beberapa sektor, seperti; Tanaman Pangan (NTPP) 116,60 (turun 2,59%), Perkebunan Rakyat (NTPR) 128,42 (turun 0,88%), hingga Peternakan (NTPT) 107,72 (turun 0,12%).
Ketika dimintai pandangan, Jumat (7/11/25), kepada CSid, Alumni Fispol Unsrat, Steven David Malonda mengatakan, harus ada tindakan konkret dari Pemprov Sulut lintas sektor antar dinas.
Ia menuturkan, Adapula Instruksi Presiden mengenai ketahanan pangan, khususnya Pertanian dan Peternakan guna mendongkrak ketahanan pangan, MBG hingga Koperasi Merah Putih.
“Dasarnya adalah menyerap hasil pangan lokal melibatkan setempat sesuai domain, baik kelurahan atau desa. Berkaca dari Nilai Tukar tanaman pangan, perkebunan rakyat, serta peternakan terbaru di Sulawesi Utara justru aneh alias anomali,” tutur Fungsionaris LPM Sulut ini.
Dia menggarisbawahi, Bicara realitas itu sulit di bantah, saya ingatkan jangan sampai terjadi konspirasi perdagangan dan harga dari berbagai pihak, alasan mereka ciptakan pasti Over Produksi hasil pertanian hingga Peternakan.
“Alasan klasik para penampung, ialah masih banyak stok di dalam gudang, sehingga tidak bisa membeli hasil pertanian maupun peternakan masyarakat, pada akhirnya harga tersebut akan anjlok,” papar jebolan Ormawa Mapala Fisip Unsrat itu.
“Otomatis saat panen agar tidak rugi masyarakat umumnya akan menjual murah hasil panen bertani atau ternak masyarakat. Butuh perhatian serius dari Gubernur dan Kapolda agar tidak terjadi penyalahgunaan. Bentuklah tim terpadu dengan orang berakhlak dan berdedikasi, contoh kasus di Minahasa Tenggara, Tombatu Silian Kaki Gunung Soputan,” lanjut Steven Malonda menjelaskan. (red)






