Sejauh ini kita sering berkeinginan melontarkan diri dan melihat ‘keluar,’ lalu takluk dalam simulakrum: citra, prestise, status/jabatan, mode, dan gaya hidup mewah, kecantikan dan kegantengan.
Di titik ini secara moral manusia tercerabut dari ‘kebahagiaan asali’ (paradiso), kesucian primordial (fitrah) dan tercampak dalam ‘kegelapan’ (inferno).
Itu sebab, alegorisme Alquran mengandaikan manusia yang sukses bangkit dan meretas diri dari kepompong “aku-gelap” menuju ‘aku-cahaya’ yang otentik tertuang dalam titah-Nya: _min al-zhulumâti ila al-nûr.
Kerinduan manusia untuk selalu menyucikan ruhaninya, melahirkan naluri kuat untuk kembali ke ‘Asal-Yang-Suci’.
Filsuf muslim dan pentolan philosphia perennis, Seyyed Hossein Nasr dalam Knowledge and Sacred (1992) mendaku, ‘kerinduan untuk selalu kembali ke “Asal-Yang-Suci’, tidak semata dialami manusia tapi juga seluruh kosmik.
“Naluri kosmik untuk kembali ke ‘Asal-Yang-Suci’, menyebabkan terciptanya gerak siklis bagi seluruh realitas – laksana tawaf – dalam tradisi haji, atom bertawaf pada sumbunya, bulan mengelilingi bumi, bumi mengitari matahari, matahari beredar mengitari galaksi, dan seterusnya.
‘Kesadaran Eksistensi’ yang dalam teologi diandaikan sebagai Tuhan. Ini pula makna esensial pesan etik Alquran: _Innâ Lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn_– “Sungguh kita semua berasal dari Allah, dan hanya kepada Allah kita “kembali”.
Di titik ini, jejak telaga suci keruhanian Islam perihal “pulang” atau “kembali,” mengalir deras dalam jantung narasi kebudayaan Nusantara: _“mole”_ (Jawa), _“amminro”_ (Konjo), _”ammaliang”_ (Makassar), _”lisu”_ (Bugis), _“mulak”_ (Batak), “mawuri”_(Minahasa)_ “mapure” (Sangihe) dan seterusnya juga mengandaikan gerak siklis “pulang” ke Asal-Usul.
E.F. Schumacher “Atonomic Model Flueni” (1990), “gerak siklis kosmik” di atas sebagai “the hierarchy of existence” mulai dari Tuhan pada tingkat tertinggi dan tak tepermanai (Infinitum) sebagai “Asal-Yang-Suci” hingga manusia dan benda-benda ‘di bawah’ manusia. Atau sebaliknya: dari benda-benda mati (terrestrial) di tingkat paling rendah hingga Tuhan pada tingkat tertinggi.
Dengan begitu Tuhan sebagai ‘Asal-Yang-Suci’ adalah ‘Titik Berangkat’ dan ‘Titik Pulang’ seluruh realitas.
Inilah akar doktrin ‘persaudaraan kosmik’ manusia-alam yang melakukan pergerakan sunyi bersama mudik ke Asal Yang-Suci.
Keterpanggilan aku otentik (spirit/ruh/fitrah) untuk selalu menyucikan dirinya dan kembali kepada Tuhannya, menjadi sumbu seluruh pergerakan ‘Mudik ke Kampung Asal-Yang-Suci’.
Bukankah pulang, adalah sebuah gerak kepastian yang mengandaikan seseorang menemukan dirinya tak jauh dari titik di mana ia berangkat ?
Mudik menuntut kesigapan dan bekal, sebab mudik bukan hanya urusan orang-orang yang ingin pulang tapi juga mereka yang mau berangkat.
Pergerakan “mulih dhisik” untuk menemukan kembali diri yang otentik (fithri), adalah mudik yang sejati.
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1445 H.
Allah Subhanahu wa Ta’ala. (***)







