
CAHAUASIANG.ID, Jakarta – Disebuah ruangan sederhana namun rapi di Polsek Kemayoran, kami mendapatkan kesempatan berbincang langsung dengan Iptu Budi Setiadi, SH, seorang perwira yang kini dikenal tegas dan humanis. Dalam wawancara bincang bincang ringan ini, Ayah yang memiliki 2 orang Putri membuka lembaran awal perjalanan hidupnya sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia—sebuah kisah yang jarang ia ceritakan kepada publik.
Awal Mendaftar Polisi
Wartawan: Pak Budi, seperti apa awal mula Anda memutuskan untuk masuk polisi?
Iptu Budi:
“Saya masih ingat betul hari itu. Saya diminta Ayah untuk datang ke Polda Jawa Barat hanya membawa berkas dan tekad. Tidak banyak yang saya punya, tapi saya yakin ini jalan hidup saya. Dari ratusan peserta yang ikut seleksi, saya selalu bilang ke diri sendiri: kalau ingin mengubah hidup, harus berani melangkah.”
Ia tersenyum kecil mengenang masa itu, seolah kembali merasakan ketegangan saat menjalani tahapan seleksi.
Seleksi Ketat di Polda Jabar
Wartawan: Banyak yang bilang seleksi itu sangat ketat. Apa yang paling berkesan waktu itu?
Iptu Budi:
“Benar, sangat ketat. Mulai dari kesehatan, psikologi, kesamaptaan, sampai wawancara. Ada momen di mana saya hampir menyerah, tapi saya tetap jalan. Ketika nama saya dinyatakan lolos, itu seperti mimpi. Titik balik hidup saya dimulai dari situ.”
Masuk SPN Lido: Awal Dari Tempaan Sesungguhnya
Wartawan: Setelah lolos, Anda langsung dikirim ke SPN Lido. Bagaimana pengalaman pertama kali tiba di sana?
Iptu Budi:
“Begitu sampai di SPN Lido, suasananya langsung berbeda. Disiplin terasa sejak detik pertama turun dari kendaraan. Udara di sana sejuk, tapi latihannya panas,” katanya sambil tertawa kecil.
Bungsu dari 8 bersaudara lanjut menceritakan kenangan bahwa hari-harinya dipenuhi rutinitas yang nyaris tanpa jeda.

“Jam tiga pagi sudah bangun. Lari, baris-berbaris, lintas alam, pendidikan mental, sampai belajar hukum. Tidak ada yang mudah. Tapi di situlah kami ditempa menjadi Bhayangkara.”
Tantangan Fisik dan Mental
Wartawan: Apa momen tersulit selama di SPN Lido?
Iptu Budi:
“Minggu-minggu awal. Banyak teman yang hampir tidak kuat. Tapi justru di situlah saya belajar arti solidaritas. Kami saling dorong, saling bantu. Kalau ada yang jatuh saat lari lintas alam, yang lain angkat dan tarik sama-sama. Itu tidak akan pernah saya lupa.”
Hari Pelantikan: Menjadi Bhayangkara
Wartawan: Bagaimana rasanya hari pelantikan tiba?
Iptu Budi:
“Wah… luar biasa haru,” ucapnya sambil menarik napas.

“Berdiri dengan seragam baru, mengucap sumpah, dan tahu bahwa saya sekarang seorang polisi… itu momen yang benar-benar mengubah hidup saya. Saya berjanji dalam hati untuk menjadi anggota Polri yang amanah.”
Refleksi Perjalanan
Wartawan: Sekarang setelah menjadi seorang perwira, apa yang Anda lihat dari perjalanan awal itu?
Iptu Budi:
“Saya dibesarkan oleh seorang Prajurit Polri yang berdinas sebagai Kapolsek di Cirebon, dan Tokoh Idola saya yang sesungguhnya adalah Ayah saya sendiri. “
Kalau saya kuat hari ini, itu karena tempaan di SPN Lido. Kalau saya bisa memimpin anggota, itu karena saya pernah berada di posisi mereka. Perjalanan itu membentuk saya menjadi polisi yang tidak hanya disiplin, tapi juga mengerti manusia.”

Wawancara eksklusif ini memperlihatkan bahwa sosok Iptu Budi Setiadi bukanlah perwira yang muncul begitu saja—ia ditempa dari perjalanan panjang, dari Polda Jabar hingga kerasnya pendidikan di SPN Lido, sebelum akhirnya menjadi figur kepolisian yang dikenal masyakarat saat ini.
Adapun saat ini Pria Asli Bandung Iptu Budi Setiadi menjabat sebagai Kanit reskrim Polsek kemayoran jakarta pusat.
Hans Montolalu






