“Kita diuntungkan kalau menguntungkan orang lain. Sukses itu jangka panjang, dengan prinsip berdagang yakni laku kita harus laku, barang kita dibeli dan dibeli lagi, dibeli lebih banyak, dibeli lebih sering,” kata Mario.
Mario mengatakan, banyak orang dagangannya hanya dibeli sekali, tidak dibeli lagi karena pelayanannya kurang.
Ketua Umum Komunitas UMKM Naik Kelas, Raden Teddy mengatakan, disrupsi digital seperti saat ini, membawa banyak perubahan dalam ekosistem masyarakat, maupun lingkungan bisnis usaha. Kita harus memanfaatkannya sebagai peluang usaha.
Pelaku UMKM, kata Teddy, harus menyesuaikan diri dengan ekosistem digital. “Bersikap adaptif, kolaboratif, dan inovatif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan menjadi dasar agar kita mampu berdaya saing di era ini,” ungkap Raden Teddy.
Dalam paparannya, Raden Teddy juga menyampaikan sejumlah tips, agar pelaku UMKM bisa lebih maju, berdaya saing, dan naik kelas.
Pembicara dari Universitas Bina Sarana Informatika, Nurhidayati, dalam paparannya menyampaikan berbagai strategi dalam membuat branding dan merek.
Disampaikan Nurhidayati, merek merupakan suatu hal penting yang dimiliki oleh pelaku usaha dan tidak jarang dikatakan sebagai asset dari suatu bisnis. Untuk itu, merek adalah suatu hak atas kekayaan intelektual yang semestinya mendapat perlindungan oleh negara.
“Dalam usaha bisnis, salah satu hal terpenting yakni adalah keberadaan merek. Dengan demikian, merek adalah suatu hal yang perlu dilakukan perlindungan hukum, tidak hanya dengan cara nasional namun juga dengan cara internasional. Selain berfungsi sebagai identitas, merek juga merupakan perwujudan kekayaan intelektual yang perlu dilindungi kepemilikannya melalui pendaftaran di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Merek merupakan kekayaan intelektual yang dilindungi oleh negara,” ungkapnya.
Kegiatan Bincang UMKM ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Wartawan Republik Indonesia [DPP PWRI] D. Supriyanto Jagad N.
Dalam sambutannya Jagad berharap, melalui kegiatan ini bisa mengedukasi para pelaku UMKM khususnya di Jabodetabek, untuk terus berinovasi dalam mengembangkan usahanya. Ke depan, kata Jagad, program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akan terus dilakukan, sebagai bentuk komitmen PWRI dalam ikut menumbuhkembangkan UMKM di Indonesia.
Kaprodi Manajemen Pajak Universitas Bina Sarana Informatika, Eka Dyah S, SE, MM dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan program pengabdian masyarakat Universitas Bina Sarana Informatika Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Melalui program ini, kata Dyah, para pelaku UMKM binaan PWRI bisa lebih maju, berdaya saing, dan terinspirasi dari paparan nara sumber yang berkompeten dalam menjalankan roda bisnisnya.
Dalam acara ini juga diserahkan cindera mata dari Universitas Bina Sarana Informatika yang diserahkan langsung Kaprodi Manajemen Pajak, Eka Dyah kepada Risdiana Wiryatni selaku penyelenggara.
[jgd/red]






