CAHAYASIANG.ID, JAKARTA – Laksono alias Dodik Geger kembali mengemukakan pandangannya terkait lima alasan Indonesia tidak bisa menjadi negara khilafah.

Laksono mengatakan, Indonesia adalah negara kepulauan. Dan di masing-masing pulau dominasi agama tidak sama, Sebut saja Jawa dan sumatra dominan Islam, Bali dominan hindu, Flores dominan katolik dan lain-lain.
“Sehingga sangat sulit faham khilafah diterapkan di seluruh Indonesia. Contoh, Bali bisa tidak menerapkan konsep khilafah? Jangan mengkhilsfahkan orang Bali,” katanya.
Sambung Laksono, Mengislamkan, ya sangat sulit. Karena masuk Islam dulu baru terima konsep khilafah, Dalam sejarah adalah negara khilafah yang kepulauan. Semua negara khilafah, terletak di daratan, Belum Ada yang kepulauan.
Sementara, Laksono berkata, Islam di indonesia. Khususnya di jawa ada tiga kelompok, Santri abangan priyayi. Bisa tidak kelompok abangan dan priyayi terima konsep khilafah.
“Dikalangan Islam sendiri ada banyak kelompok dan aliran. Sebut saja ada NU, Muhammadiyah, dan lain-lain,” ujarnya.
Jadi andaikata negara khilafah, mau pakai kelompok dan aliran Islam yang mana?
“Kekuatan non muslim sangat kuat di bidang ekonomi dan pendidikan. Dengan menjadi negara khilafah, apakah mampu mereka berdiri tanpa kekuatan non muslim,” ungkapnya.
Pesan Laksono sembari mempertanyakan kepada para pengasong konsep transnasional tersebut, TNI dan Polri masih kuat, kompak dan bersatu.
“Apakah kelompok khilafah mampu menghadapi TNI dan POLRI,” tanya Dirinya kepada pengasong khilafah.
Jadi, dari penjabaran barusan yang mungkin kurang indah bagi para tuan dan puan pembaca, singkat cerita pemimpin Republik Indonesia 2024 mendatang.
Harus benar-benar Paham, isi kepala Bapak dari Para Founding bangsa ini, yaitu pemikiran HOS TJOKROAMINOTO, dimana mungkin yang lain jika jelih beliau mempunyai 3 Murid.
Siapa sajakah Murid-Murid HOS TJOKROAMINOTO yang dimaksud?
1. Soekarno (Mendirikan PNI/Aliran Tengah)
2. Semaoen (Mendirikan PKI/Aliran Kiri)
3. Kartosoewirjo (Pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia/DI/TII).
Yang akhirnya, pemikiran para muridnya tersebut menjadi platform ideologi hingga sekarang, dan menciptakan replika pertengkaran baru yang diamplifikasi dengan nama Cebong dan Kampret.
Kelak Pemimpin, Pasca Jokowi harus benar-benar tahu alur berpikir Bapak dari ketiga Founding Father bangsa ini.
Menurut saya, sosok itu sudah ada dilingkaran Presiden Jokowi. Namanya, Moeldoko, hal itu percaya atau tidak sesuai dengan Wahyu Keprabon Kejawen.
Keprabon, artinya yang jadi Prabu atau jadi Raja sedangkan di Indonesia Presiden identik dengan Raja. (*Dego)






