CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Kesejahteraan penyiar radio ternyata tidak berbanding lurus dengan fungsinya sebagai garda terdepan dalam menyampaikan informasi publik.
Faktanya, masih ada penyiar radio yang kompetensinya dihargai dengan nilai minimal.

Hal tersebut, mengemuka dalam program KSP Mendengar bersama organisasi profesi penyiar radio, yakni PERSIARI (Penyiar Radio Seluruh Indonesia), di Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2023).
“Saya jadi penyiar sejak 1997. Gaji kami masih ada yang lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah per jam. Saya berharap dengan KSP mendengar bersama PERSIARI, negara hadir di tengah profesi penyiar radio,” kata Elvira Dinata, penyiar Radio Diaz Jambi.
Dalam Forum ini, Isu tentang peningkatan kompetensi penyiar radio muncul begitu nyaring.
Sebagai penyiar radio Star FM Yogyakarta, Ardi mengatakan, profesi penyiar memiliki tugas untuk mendengar dan menyampaikan informasi.
“Dan pengetahuan kepada publik sangat membutuhkan banyak pelatihan,” sambungnya.
Dia berharap, pemerintah bisa memfasilitasi kebutuhan tersebut.
“Budaya Indonesia yang beragam menuntut kami untuk bisa beradaptasi dengan beragam generasi dan background. Tentu ini butuh kompetensi lebih,” jelasnya.
Menanggapi berbagai aspirasi, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ratna Dasahasta menyampaikan, bahwa Kantor Staf Presiden siap menjembatani PERSIARI dengan Kementerian/Lembaga terkait untuk mendiskusikan dan mencari solusi terkait persoalan yang dihadapi penyiar radio di Indonesia.
“Berkaitan dengan kesejahteraan profesi penyiar, KSP siap menjadi host diskusi isu ini,” tegasnya.
Dirinya menekankan, pentingnya profesi penyiar dan insan radio melakukan inovasi agar industry radio bisa tetap hidup dan tumbuh.
“Radio sebagai sarana advertising seringkali menjadi pilihan terakhir. Mengkombinasikan video dan audio bisa menjadi pilihan untuk monetisasi,” sarannya.
Sebagai Informasi, ‘KSP Mendengar’ merupakan program Kantor Staf Presiden untuk membuka seluas-luasnya kepada masyakarat untuk menyampaikan aspirasi, layaknya yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo.
Melalui ‘KSP Mendengar’, Kantor Staf Presiden yang menjadi mata dan telinga Presiden, ingin mendekatkan Istana dengan masyarakat.
“Teman-teman penyiar, adalah telinga bagi kami. Apa yang didengar dari masyarakat adalah feedback yang luar biasa bagi kami di KSP,” tutupnya, yang didampingi Tenaga Ahli Utama KSP Joanes Joko. (*Dego)





