CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) 2005-2015, Frans Eka Dharma Kurniawan mengatakan, Ada perasaan ambigu terhadap Media, baik media massa yang lahir hampir 200 tahun lalu, hingga media sosial di jaman moderen saat ini.
KOMRAD dan KAM Sulut 1998 ini juga menambahkan, Kebangkitan media massa era industri mesin cetak, hingga frekuensi radio maupun televisi menempatkan media massa semacam komponen diluar Industri itu sendiri. Walaupun, ada fakta bahwa industri media massa akan terkait dengan sistem ekonomi yang berlaku.
“Maka akan sulit menilai apakah media massa, benar-benar bebas nilai dibawah kontrol bisnis maupun negara,” kata Ances sapaan akrabnya, yang juga Wakil Ketua 1 Exco Partai Buruh Sulut kepada media ini, Rabu (5/7/23).

DALAM SISTEM DEMOKRASI LIBERAL MEDIA MASSA DIKONSTRUKSI SEBAGAI SALAH SATU PILAR DEMOKRASI
Dalam sistem negara otoritarian maupun diktator, media massa adalah alat hegemoni untuk mengontrol massa rakyat dan alat menyebarkan nilai-nilai kebenaran yang di kontruksi oleh kekuasaan negara. Dalam era media massa ini, kontrol media massa diperankan oleh 2 unsur kekuatan; oleh pemilik modal bisnis media dan oleh negara yang mengontrol media.
Kelahiran internet kemudian menjadi alternatif baru dalam perkembangan media. Internet telah membuka cakrawala baru dalam membentuk media. Sebagai teknologi yang lahir dari industri pasca perang dingin, teknologi internet ini membawa semangat branding “kebebasan individu” dari demokrasi liberal.
Internet terbukti mampu menghadapi kontrol negara terhadap media massa. Misalnya ketika internet memperkenalkan E-mail dimana pertukaran informasi bisa dilakukan tanpa perantara antar individu, arus kejadian atau suatu berita disampaikan langsung tanpa harus ada sensor atas baik dan buruk maupun benar dan salah menurut negara. Apalagi dinegara yang cukup tertinggal atau yang tidak bisa mengakses kontrol teknologi baru tersebut.
INTERNET MEMBANTU GERAKAN MAHASISWA 1998
Bisa dibilang internet telah “membantu” terjadinya perlawanan seperti gerakan mahasiswa 1998 yang berujung jatuhnya Rezim Militer Orde Baru. Walaupun pada faktanya fasilitas internet itu tidak datang dari langit, dan Penguasa Orde Baru tak memiliki akses untuk mengontrolnya.
Dari E-mail kemudian berkembanglah media sosial. Dengan semangat yang sama, lahirnya media sosial juga membawa dampak “kebangkitan” demokrasi di dunia Arab yang dianggap “anti demokrasi” dalam perspektif barat. Arab spring mungkin yang paling fenomenal atas keberhasilan media sosial yang diciptakan oleh negara barat.
Akan tetapi, kemampuan media sosial buatan barat kemudian mendapat tandingan dari negara yang ekonominya sedang bangkit, yaitu China. Dan tiktok membuat persepsi media sosial yang selama ini diklaim sebagai alat kemenangan demokrasi ala barat menjadi momok menakutkan atas “kontrol” teknologi yang berbeda pandangan politik terhadap tatanan dunia moderen saat ini.
Tak perlu lama untuk menuduh tiktok maupun telegram atas berbagai perlawanan yang rusuh di eropa atas kegagalan negara barat menangani masalah-masalah ekonomi negaranya yang berdampak pada kestabilan politik dalam Negara. (Dego)






