Dalam pernyataan publiknya, Kardinal Tagle kerap menekankan pentingnya Gereja yang inklusif dan berpihak kepada kaum marginal. Saat mendapat kesempatan mengemukakan pandangan untuk World Youth Day 2016 di Krakow, ia berkata, “Kadang, kamu merasa tidak berada di tempat yang tepat. Tapi jika kamu hilang, kamu pasti ingin ditemukan.” Pesan ini merefleksikan semangat Gereja yang merangkul semua orang.
JEMBATAN ANTARA ROMA DAN BEIJING
Salah satu faktor yang memperkuat profil Tagle di Vatikan adalah keterlibatannya dalam diplomasi Gereja dengan Tiongkok. Karena garis keturunan Tionghoanya, ia dianggap memiliki sensitivitas budaya dan komunikasi yang baik dalam membangun hubungan Gereja dengan umat Katolik di Tiongkok, yang berada di bawah tekanan pemerintah.
Pada 2021, ia dipercaya menjadi bagian dari tim Vatikan yang menangani perundingan sensitif mengenai penunjukan uskup di Tiongkok, hal ini menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap diplomasi lunak yang ia anut.
PELUANG MENJADI PAUS
Tagle termasuk kandidat kuat dalam Konklaf Kepausan yang akan memilih pengganti Paus Fransiskus. Ia dianggap memiliki keseimbangan antara teologi yang kuat, empati pastoral, dan kemampuan lintas budaya.
Namun, usianya yang masih tergolong muda untuk standar pemilihan paus (67 tahun) bisa menjadi faktor yang mengurangi peluang, karena para kardinal umumnya mempertimbangkan masa jabatan yang tidak terlalu panjang. Pemilihan paus yang terlalu muda bisa menutup peluang kardinal lain dalam beberapa dekade mendatang.
Jika terpilih, Kardinal Tagle akan mencatat sejarah sebagai paus pertama dari Asia, sekaligus paus pertama keturunan Tionghoa. Kepemimpinannya diharapkan membawa semangat baru, inklusif, dan selaras dengan perubahan demografi Gereja Katolik yang semakin berkembang di belahan dunia selatan. (*/Deon)



