
CAHAYASIANG.ID, Minsel – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Manado, menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat dengan menyalurkan bantuan ribuan bibit tanaman kepada para petani di Desa Kakenturan, Kecamatan Modoinding.
Sebagai tanggung jawab sosial dan lingkungan, PNM Manado memberikan bantuan sebanyak 9.000 bibit yang terdiri dari bibit cabai dan wortel. Bantuan ini diserahkan kepada tiga kelompok tani yang masing-masing menerima sekitar 3.000 bibit.
Pimpinan Cabang PT. PNM Cabang Manado, Zulfikar Arsyad, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk terus hadir di tengah masyarakat sekitar wilayah operasional. Bantuan bibit ini menjadi langkah awal PNM di Desa Kakenturan, yang diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian warga.
“Selama ini, PNM berfokus pada penyaluran pembiayaan dan pemberdayaan bagi para pelaku UMKM serta kelompok usaha di daerah perdesaan dan kecamatan. Ke depan, PNM berencana menjadikan program ini berkelanjutan. Tidak hanya penambahan bibit komoditas lain seperti kol dan kentang, PNM juga merencanakan dukungan infrastruktur seperti pipanisasi irigasi untuk mendukung pengairan lahan pertanian warga,” ucapnya.
Guna memastikan efektivitas bantuan, PNM akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala melalui ketua kelompok tani. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa manfaat dari bantuan bibit tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Ketua Kelompok Tani “Kita Bisa ” Kakenturan, Marcus Komaling, salah satu dari tiga kelompok tani penerima bantuan tersebut, mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas kepedulian PNM Cabang Manado kepada para petani di Modoinding. Menurutnya, program ini bersumber dari komitmen berkelanjutan PNM untuk mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan. “Ke depan, para petani juga berharap adanya kelanjutan program berupa penyediaan alat-alat pertanian,” ucapnya.
Terkait kendala pertanian di wilayah Kakenturan yang dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura di Sulawesi Utara sehubungan dengan kemarau ekstrim yang melanda, Markus menjelaskan bahwa ketersediaan air di daerahnya sebenarnya mencukupi. Namun, petani masih menghadapi kendala pada keterbatasan sarana pendukung penyiraman.
“Ketersediaan air di sini cukup melimpah. Hanya saja, kami masih kekurangan alat pompa air (alcon) dan sprinkler untuk pengairan tanaman. Kami berharap ke depan ada bantuan sarana tersebut agar proses penyiraman tanaman dapat berjalan lebih lancar dan hasil panen lebih maksimal,” pungkas Markus. (ak)


