CAHAYASIANG.ID, SULAWESI UTARA – Aktivis perempuan Sulawesi Utara, Bunda Yuni Srikandi, menyayangkan pemberitaan sejumlah media yang dinilainya hanya terfokus pada satu nama pengusaha tambang ilegal di wilayah Ratatotok, yakni Deker Mamusung (DM).
Menurut Bunda Yuni, sorotan yang hanya tertuju pada satu individu sangat tidak adil dan menyesatkan opini publik. Pasalnya, pengusaha tambang ilegal di wilayah tersebut jumlahnya tidak sedikit, bahkan mencapai ratusan orang.
“Pemberitaan yang hanya mentok pada satu pengusaha itu sangat ironis dan terkesan sengaja mencari-cari kesalahan oknum tertentu, seolah-olah semua persoalan tambang ilegal di Ratatotok hanya milik satu orang,” tegas Bunda Yuni.
Ia menilai framing pemberitaan tersebut membentuk persepsi publik bahwa DM adalah “raja” tambang ilegal, termasuk tudingan sebagai penimbun terbesar BBM solar dan bahan kimia berbahaya seperti sianida (CN). Padahal, menurutnya, fakta di lapangan menunjukkan masih ada pengusaha lain yang melakukan penimbunan solar dan CN dalam jumlah jauh lebih besar.
Bunda Yuni menjelaskan bahwa dalam praktik tambang emas ilegal di Ratatotok, penggunaan BBM solar dan sianida sudah menjadi kebutuhan utama dalam proses pengolahan material batu emas menjadi emas murni. Hal tersebut, kata dia, hampir dilakukan oleh mayoritas pengusaha tambang ilegal di kawasan tersebut.
“Kalau hanya satu dua orang yang disorot, sementara yang lain dibiarkan, itu namanya naif. Penegakan hukum dan pemberitaan harus adil, tidak boleh tebang pilih,” ujarnya.
Aktivis yang dikenal vokal dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Sulawesi Utara itu juga menilai bahwa DK menjadi korban sorotan media yang hanya memakai ‘kaca mata kuda’, tanpa melihat persoalan secara utuh dan menyeluruh.
Bunda Yuni pun mengingatkan agar media dan aparat penegak hukum lebih objektif, adil, dan menyeluruh dalam menyikapi persoalan tambang ilegal, demi keadilan dan kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar membentuk opini terhadap satu nama tertentu.(*RS)


