CAHAYASIANG.ID, Sangihe – Ibadah Pentahbisan Pendeta GMIST Christania T.D Arari S.TH yang di Pimpin oleh Ketua Umum Sinode GMIST Welman Boba bertempat di GMIST Jemaat El-syadday Tahuna pada Minggu (05/11/23).

Dalam Ibadah tersebut, Boba mengutip Firman Tuhan yang terambil dalam Kitab Yosua 3:1-14, “Bacaan ini adalah Kisah Perjalanan Hidup Bangsa Israel saat Musa telah tiada di gantikan oleh Yosua.
“Jadi selalu ada peralihan, yang baru datang, yang lama pergi. Dan Sejak Ditahbiskan ini, akan menjadi Pendeta baru, saat itu juga ada Pendeta yang di Emerituskan, demikian dalam Gereja Tuhan, ditengah-tengah Umat Allah yang telah di Bangun dan di BentukNya, datang silih berganti para PelayanNya, dari generasi ke generasi. Christania adalah Generasi Baru yang akan Meneruskan Pelayanan, banyak Suka dan Duka yang akan di alami, namun Saya yakin dan percaya ini semua sudah di alami selama Penempaan Diri selama dua tahun masa penggemblengan seorang Vikaris,” ungkap Boba dalam Khotbahnya.

Usai Ibadah Pentahbisan, Pdt Atohema Medea, dalam membawakan Sambutan dari Sinode mengatakan, berkenaan dengan pentahbisan Vikaris Chistania Tri Diasvita Arari, S.TH menjadi Pendeta GMIST pada hari ini, adalah bagian dari Suksesi Kehambaan yang Diturunalihkan dalam kewibawaan lembaga Gereja sebagai tubuh Kristus.
“Roh Kehambaan di Alirkan melalui penumpangan tangan para Hamba-Nya, hanya oleh Kasih Karunia Allah sajalah, seorang anak manusia yang dilahirkan dalam dosa, ditebus dan di layakkan menjadi Pelayan Jemaat,” ungkap Medea.

Lanjutnya, Pentahbisan dilakukan setelah seorang Vikaris menjalani proses persiapan diri mulai dari pendidikan teologi hingga penempaan diri selama dua tahun di jemaat.
“Selama itu, seorang Vikaris dipersiapkan dan diperlengkapi untuk mengemban tanggung jawab, pengabdian seorang Hamba dalam jabatan fungsional sebagai Pendeta GMIST, sebagaimana diatur dalam Tata Gereja 2018 dan Peraturan Majelis Pekerja Sinode (MPS) tahun 2023. Dengan ditahbiskannya seorang Vikaris menjadi Pendeta, maka secara penuh Pendeta tersebut mengemban tanggung jawab dan kewajiban melakukan pelayanan Sakramen dan Pemberitaan baik melalui perkataan maupun tindakan,” tuturnya.

Dalam pengabdian tersebut seorang Pendeta menjadi teladan bagi jemaat dalam ketaatan dan kesetiaan memikul salib dengan tetap memandang Yesus.
“Sikap hidup dan perilaku keteladanan itu antara lain, Mengasihi semua orang tanpa melihat latar belakang Sosial, Agama dan Golongan, Setia dan Tekun melayani, Jujur bagi diri sendiri dan orang lain, Mampu menunjukkan kerendahan hati, Bertutur kata yang membawa kesejukan, Mampu menguasai dan sanggup mengendalikan diri, memiliki sopan santun dan berjiwa besar mengakui kelemahan diri, tidak egois, tidak materialis dan tidak menjadi hamba uang,” tandas

Di akhir Sambutannya, Atohema Medea yang juga sebagai MPS berpesan, Sebagai penyandang Jabatan Fungsional, seorang Pendeta, dalam pelayanannya dipandang oleh banyak mata, oleh karena itu, kepada Pendeta Christani Tri Diasvita Arari, S.TH bahwa Keteladanan seorang Pendeta adalah “harga mati” Ia tidak dapat ditawar lagi, Jaga dan pelihara itu, sebab yang disandang oleh seorang Pendeta bukan nama Pribadinya lagi tetapi “jatidiri” kehambaannya sebagai Pendeta, tegasnya.
Akhirnya, atas nama Majelis Pekerja Sinode “Saya mengucapkan Selamat kepada Pendeta Chistania Tri Diasvita Arari S.TH menjadi Kawan sekerja Allah dalam menjalankan Fungsi Kehambaan sebagai Pendeta GMIST. Juga Terimakasih kepada MPJ, Majelis dan anggota jemaat GMIST Jemaat El-syadday Manente, Terimakasih kepada Konselor yang telah dengan sabar dan setia menjalankan tugas sebagai Pembimbing,Terimakasih kepada Majelis Pekerja Resort Tahuna dan Terimakasih kepada Pemerintah Kelurahan Manente.” (*Anto)






