Oleh :
David P. T. Mondigir, S.Psi. (Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University, Semarang)

CAHAYASIANG.ID – Bagi banyak orang, lari adalah cara sederhana untuk menjaga kebugaran. Namun, seiring waktu, sebagian pelari menemukan manfaat lain: suasana hati yang lebih baik, pikiran yang terasa lebih jernih, dan perasaan lebih terhubung dengan diri sendiri.
Aktivitas fisik secara umum berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik, termasuk berkurangnya gejala kecemasan dan depresi serta meningkatnya kesejahteraan. Dalam WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour, World Health Organization (WHO, 2020) menempatkan aktivitas fisik sebagai bagian penting dari upaya menjaga kesehatan dan kualitas hidup.
Psikologi positif-cabang psikologi yang mempelajari hal-hal yang membantu manusia berkembang dan menjalani hidup yang bermakna—memberi sudut pandang yang menarik untuk memahami mengapa berlari bisa terasa begitu berarti.
Dalam bukunya Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being (2011), Martin Seligman menjelaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya soal merasa senang. Ia memperkenalkan model PERMA, yang terdiri atas lima elemen: Positive Emotion (emosi positif), Engagement (keterlibatan), Relationships (hubungan), Meaning (makna), dan Accomplishment (pencapaian). Menariknya, kelima elemen ini dapat kita temukan dalam aktivitas sederhana seperti berlari.
Lima Elemen PERMA dalam Aktivitas Lari:
Pertama, Positive Emotion atau emosi positif. Banyak pelari merasakan ketenangan, kegembiraan, atau suasana hati yang lebih baik setelah berlari. Sebagian orang menyebut pengalaman euforia tersebut sebagai runner’s high. Meski pengalaman setiap orang berbeda, lari dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengelola stres dan memperbaiki suasana hati.
Kedua, Engagement atau keterlibatan penuh. Elemen ini muncul ketika kita begitu fokus pada suatu aktivitas hingga perhatian tertuju pada apa yang sedang dilakukan. Saat berlari, misalnya, kita mulai menyadari irama napas, langkah kaki, dan gerak tubuh. Untuk sesaat, perhatian pada berbagai kekhawatiran lain bisa berkurang.
Ketiga, Relationships atau hubungan. Lari tidak harus dilakukan sendirian. Teman berlari, komunitas, dan acara seperti fun run dapat menghadirkan dukungan sosial serta rasa memiliki. Dengan begitu, manfaat lari tidak hanya berasal dari aktivitas fisik, tetapi juga dari hubungan yang tumbuh selama prosesnya.
Keempat, Meaning atau makna. Lari dapat terasa lebih berarti ketika terhubung dengan tujuan yang penting bagi kita, misalnya menggalang dana, menjaga kesehatan demi keluarga, atau membangun kebiasaan merawat diri. Bagi sebagian orang, makna itu justru ditemukan dalam prosesnya: meluangkan waktu untuk diri sendiri dan menghargai kemampuan tubuh.
Kelima, Accomplishment atau pencapaian. Menetapkan dan mencapai target kecil dapat memperkuat self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa kita mampu melakukan sesuatu. Konsep ini dikembangkan oleh Albert Bandura. Pelari yang berhasil menyelesaikan jarak 5 kilometer, misalnya, mungkin menjadi lebih percaya diri untuk mencoba 10 kilometer. Pengalaman tersebut juga bisa menumbuhkan keyakinan ketika menghadapi tantangan dalam pekerjaan, studi, atau kehidupan sehari-hari.
Di sini, growth mindset yang dipopulerkan Carol Dweck juga relevan. Orang dengan pola pikir bertumbuh melihat proses belajar sebagai sesuatu yang bisa terus dikembangkan. Pace yang melambat atau kegagalan mencapai garis finis bukan semata-mata tanda ketidakmampuan, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi strategi dan mencoba lagi.
Dalam percakapan singkat dengan beberapa rekan penulis yang aktif berlari, juga menceritakan pengalaman yang sejalan dengan gagasan tersebut. Pengalaman personal seperti ini memberi gambaran tentang makna lari dalam kehidupan sehari-hari, meski tentu tidak dapat mewakili pengalaman semua pelari.
Menyatukan Kelima Elemen
Kelima elemen PERMA tidak harus hadir secara sempurna setiap kali kita berlari. Namun, kita bisa mencoba menggabungkannya melalui kebiasaan sederhana:
• Positive Emotion: Mulai dan akhiri sesi lari dengan rasa syukur atas kesempatan untuk bergerak.
• Engagement: Pilih intensitas yang menantang, tetapi tetap nyaman dan sesuai kemampuan tubuh.
• Relationships: Sesekali berlarilah bersama teman atau komunitas untuk membangun koneksi sosial.
• Meaning: Ingat kembali alasan pribadi yang membuat kita ingin berlari, terutama saat motivasi menurun.
• Accomplishment: Tetapkan target kecil yang realistis, lalu hargai setiap kemajuan yang berhasil dicapai.
Ketika Lari Tidak Lagi Membahagiakan
Ada hal yang tetap perlu diwaspadai. Memaksakan diri untuk berlari ketika cedera atau mengabaikan kebutuhan istirahat justru dapat mengurangi manfaatnya. Self-determination theory, yang dikembangkan Edward L. Deci dan Richard M. Ryan, menekankan pentingnya motivasi yang tumbuh dari dalam diri. Menikmati proses dapat lebih mendukung kesejahteraan dibandingkan terus berlari karena tekanan atau tuntutan dari luar.
Karena itu, slogan seperti “tidak ada alas an untuk tidak lari” perlu disikapi dengan bijak. Jika digunakan untuk mengabaikan rasa sakit, kelelahan, atau kebutuhan tubuh untuk pulih, semangat tersebut dapat berubah menjadi tekanan yang tidak sehat. Beristirahat bukan berarti gagal; mengenali batas tubuh juga bagian dari merawat diri.
Lari dapat membantu menjaga suasana hati, tetapi bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang mengalami depresi atau kecemasan yang berat. Mencari bantuan merupakan langkah yang wajar dan penting ketika dibutuhkan.
Penutup
Lari bisa menjadi salah satu jalan menuju hidup yang lebih sehat, menyenangkan, dan bermakna. Namun, manfaatnya tidak hanya ditentukan oleh jarak, kecepatan, atau jumlah kalori yang terbakar. Cara kita menjalani prosesnya juga penting.
Lari yang dinikmati dan disesuaikan dengan kemampuan tubuh dapat memberi ruang untuk merasakan emosi positif, hadir sepenuhnya, membangun hubungan, menemukan makna, dan merayakan pencapaian. Sebaliknya, lari yang terus dipaksakan demi angka atau pengakuan bisa kehilangan sisi menyenangkannya.
Jadi, mungkin pertanyaan yang layak kita ajukan setelah berlari bukan hanya, “Seberapa cepat aku hari ini?” melainkan juga, “Apa yang membuatku ingin terus berlari?” (*)


