Hal itu menurutnya, menjadi tugas bersama yang bukan cuma satu unsur saja, tetapi semua pihak termasuk media massa yang menyampaikan berita-berita positip. Dengan demikian orang tua merasa nyaman, anak-anak juga merasa aman. “Sekarang sudah seperti biasa dan mereka bisa datang ke sekolah dengan baik, bisa belajar dengan baik,” ujarnya.
Hanny William Rawung mengatakan, untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa, pihaknya juga bekerja sama dengan Kepolisian. Saat pulang sekolah tetap ada patroli.
” Kami meminta juga orang tua kalau boleh tetap tenang, dan selalu berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memantau keberadaan dan kondisi anak-anak,” ujarnya.
Sementara, Kepala SMKN 2 Manado, Tineke Lesar SPd MPd, menegaskan komitmen sekolah dalam menekan dan mencegah potensi bentrokan antar-pelajar yang melibatkan siswanya dengan sejumlah sekolah lain di Kota Manado.
Langkah pencegahan difokuskan pada penguatan karakter peserta yang dididik secara internal serta sinergi lintas sektoral bersama kepolisian dan orang tua murid.
Tineke mengungkap, pihaknyah secara konsisten menjalankan program pembentukan mental dan kebiasaan positif setiap hari. Pembiasaan tersebut dimulai sejak pagi hari sebelum jam pelajaran hingga keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler serta Kepramukaan.
“Setiap pagi ada pelatihan karakter. Kami berupaya melakukan pembiasaan karakter baik anak Indonesia Hebat. Kami juga menggelar Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) dan kegiatan ekstrakurikuler agar siswa bisa mandiri dan mampu bekerja sama,” teragnya.
Pihak sekolah pun telah membangun koordinasi yang intensif dengan aparat Kepolisian, khususnya Polsek Tikala dan Polresta Manado. Koordinasi tersebut mencakup penjagaan pada jam rawan saat siswa pulang sekolah hingga penindakan terhadap akun-akun penyebar hoaks maupun provokasi di media sosial.
“Upaya preventif sekolah sudah luar biasa. Setiap hari kami koordinasi jam pulang dengan sekolah lain dan melaporkannya ke Polsek Tikala untuk patroli,” ujarnya.
Dia memaparkan, guru-guru pria juga diturunkan untuk berjaga di titik-titik rawan. Soal isu dan provokasi di media sosial, dia mengatakan, sudah serahkan ke pihak Cyber Kepolisian untuk menyelidiki akun-akun penyebar berita kebohongan.
Dorong Peran Orang Tua Awasi Anak
Selain menggandeng Kepolisian, Tineke juga menekankan pentingnya peran aktif orang tua dalam mengawasi anak didik. Pihak sekolah kini menerapkan sistem kontrol melalui kordinasi dengan orang tua murid di grup WhatsApp kelas dan tiap mata pelajaran.
Itu untuk menampilkan keberadaan siswa, membatasi penggunaan kendaraan pribadi, serta melakukan pemetaan (mapping) terhadap siswa yang memerlukan perhatian khusus.
“Karakter anak juga harus dibentuk dari rumah, jadi butuh kolaborasi dengan orang tua. Di sekolah, guru mengambil foto kehadiran kelas dan dikirim ke grup orang tua agar mereka tahu anaknya berada di sekolah atau tidak,” ujarnya.
Hal lain yang dilakukan adalah mendata anak-anak yang berpotensi bermasalah atau terlibat masalah dengan sekolah lain untuk diberikan penanganan khusus. (andre)


