CAHAYASIANG.ID, Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Republik Indonesia Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko buka suara mengenai isu pertanian saat menerima “Gerakan Maju Tani Indonesia”.

Dimana titik krusialnya, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tersebut mendiskusikan konsep “Meta Farming” untuk masa depan Pertanian Indonesia.
Setelah mendengarkan penjabaran “Gerakan Maju Tani Indonesia” Panglima TNI Periode 2013-2015 mengatakan, Kalau kita bicara tentang pertanian.
Menurut KSAD terpendek dalam sejarah Panjang kemiliteran di Indonesia, betul itu rentan, baik cuaca, iklim, fenomena alam, maupun hama.
“Bertani itu persoalannya betul-betul kompleks, begitu nanam benih yang salah kita nunggu sekian bulan, tahu-tahu hasilnya kurang memuaskan,” kata Moeldoko, di Bina Graha Kantor Staf Presiden, Senin (11/9/2023).
Lulusan Akmil 1981 ini menyinggung mengenai petani yang berpenghasilan rendah, Apalagi Holtikultura itu sangat-sangat rentan dengan waktu.
“Terlambat sedikit, wah itu jadi tidak bernilai. Sayur itu tidak bernilai, berikutnya lama bertumbuhnya. Tapi saya bangga anak-anak muda bisa menaklukan tantangan-tantangan itu, Ngak gampang! Tantangan-tantangan itu ditaklukkan, hanya bisa orang-orang yang tangguh bisa menaklukan,” ungkap Moeldoko.
SINGGUNG MARHAEN
KSP Moeldoko kemudian menyinggung kisah Presiden Pertama Republik Indonesia yang menemui seorang petani bernama Marhaen.
“Temen-temen sekalian, saya pernah membaca konsep atau pemikiran Pak Karno (Soekarno) tentang Marhaen,” ujar Moeldoko.
Ia mengilustrasikan petani yang punya alat produksi serta lahan dengan fakta menyedihkan.
“Dalam suatu perjalanan beliau ketemu seorang petani namanya Marhaen. Petani dilukiskan mereka mempunyai alat produksi dan sebidang lahan tetapi kondisinya masih tetap memprihatinkan,” sambung Moeldoko.
Dirinya kemudian menyentil kondisi pertanian berdasarkan ilustrasi Putra Sang Fajar (Sebutan Soekarno, ditulis oleh Cindy Adams pada buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).
“Kondisi Pertanian Indonesia yang memprihatinkan, dilukiskan sebagai petani melarat dan seterusnya. Kurang lebih seperti itulah kata-kata Marhaen,” lanjut Moeldoko. (DYW)






