
Oleh: Aristoteles Sjafii, Ketua Himaju Manajemen FEB Unsrat Periode 2019-2020, Sekretaris PMKRI Manado Masa Bakti 2020-2021
CAHAYASIANG.ID, Opini – Banyak orang menganggap setiap penurunan nilai rupiah sebagai hasil dari urusan Bank Indonesia, atau berita ekonomi semata.
Meskipun demikian, efeknya dapat dilihat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari kita. Karena sebagian besar bahan baku mas masih diimpor, harga mi instan, tahu tempe, obat, dan BBM mungkin naik. Selain itu, penurunan nilai rupiah meningkatkan tanggung jawab pemerintah. Subsidi terus meningkat, utang internasional meningkat, dan jika tidak dapat ditahan, konsekuensi akhirnya akan menjadi kenaikan harga yang ditanggung oleh rakyat.
Selain itu, tingkat cicilan dolar yang meningkat dapat menyebabkan kerugian bagi perusahaan, yang bahkan dapat menyebabkan pemecatan karyawan. Salah satu pihak yang mendapat keuntungan adalah eksportir yang menerima harga yang lebih tinggi. Tapi pada kenyataannya, ekonomi kita masih bergantung pada impor lebih banyak daripada ekspor. Akibatnya, pelemahan rupiah lebih merugikan daripada membantu.
Dengan memilih produk lokal, masyarakat juga dapat berpartisipasi. Rupiah bukan hanya angka kurs tetapi juga representasi kekuatan ekonomi negara. Melemahnya rupiah menunjukkan bahaya, dan kita semua harus lebih waspada dan mandiri agar tidak terus goyah setiap kali dolar menguat. (Deon)





