• Advertorial
  • Editorial
  • Opini
  • Wartawan Ba Carita
Tuesday, 10 February 2026
  • Login
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
Cahaya Siang
Advertisement
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya
No Result
View All Result
cahayasiang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Sulut
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
  • Olahraga
  • Hiburan

Beranda » Dibalik Produktivitas: Potret Kehampaan Manusia Modern

Dibalik Produktivitas: Potret Kehampaan Manusia Modern

29/01/2026
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Rafael Lumintang

(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur)

Manusia zaman ini hidup dalam “pusaran modernitas dan kecepatan yang nyaris tanpa jeda.” Aktivitas yang dijalankan dipenuhi dengan kegiatan yang begitu padat; agenda, jadwal, target, janji, dan tuntutan produktivitas yang terus bertambah. Kesibukan tidak lagi dimengerti sekadar kebutuhan praktis, melainkan berubah drastis menjadi ukuruan yang dihubungkan dengan “nilai diri individu.”

Semakin sibuk seseorang, semakin dia diberi label sebagai orang berhasil. Dalam fenomena modern seperti ini, “mengambil waktu atau berhenti sejenak dari segala kesibukan sering dipandang sebagai kemunduran,” sementara di satu sisi, diam kerap dilihat sebagai ketidakbergunaan. Waktu tidak lagi dipahami “sebagai makna hidup yang harus direnungkan dan disyukuri,” seolah waktu hanya deretan tugas yang harus diselesaikan demi tercapainya kepuasan, kekayaan, dan status quo.

Melihat realitas yang kompleks dan tidak pasti ini, di balik produktivitas yang dipuja tersebut, muncul suatu perasaan hampa yang sulit dijelaskan secara mendalam. Ada begitu banyak orang bekerja dengan sangat keras, namun merasa hidupnya “kosong atau dangkal.” Aktivitas terus berjalan tiada henti, tetapi makna terasa jauh.

Paradoks ini menunjukan bahwa problem fundamental bukan kurangnya kerja, melainkan manusia krisis “kedalaman eksistensial.” Manusia yang sejatinya memberi makna lebih dalam hidupnya, kini dininabobokan dengan “rutinitas yang tidak mengenal kata henti.” Waktu memaknai hidup dalam berkeluarga, bermasyarakat, sebagai pelajar, dan menggereja tidak lagi dihayati dengan otentik. Karl Jaspers hadir untuk “membaca dan memberi solusi terhadap fenomena di atas secara lebih jernih.”

Produktivitas dan Reduksi Kehidupan Manusia

Dalam konteks horizon budaya produktivitas, manusia tidak lagi dihayati sebagai misteri, melainkan diperlakukan sebagai “proyek yang harus terus diselesaikan.” Hidup diberi makna dangkal menjadi kinerja; nilai eksistensi ditimbang melalui efisiensi, target, dan hasil yang kasat mata. Manusia modern hadir sebagai “homo activus” yang berarti manusia pekerja, menghasilkan, menopang sistem, tanpa ruang untuk berdiam dan bertanya.

Pola pikir seperti ini, apabila dilihat dalam pandangan Karl Jaspers, berarti “mengurung manusia dalam dunia objektif”. Dunia yang hanya mengakui apa yang terukur, mengakibatkan eksistensi perlahan kehilangan kedalamannya dan berubah menjadi sesuatu yang fungsional, tetapi hampa makna.

Problem fundamententalnya ialah “dunia objektif” memang penting, namun ia tidak cukup mapan menjelaskan keberadaan manusia secara utuh. Ketika hidup manusia modern sepenuhnya didominasi oleh logika objektif, ia kehilangan ruang batin untuk mempertanyakan makna keberadaannya sendiri. Hidup terus dijalani sebagai keharusan yang dibalut “bingkai rangkaian aktivitas,” tetapi tidak sungguh disadari sebagai pengalaman eksistensial yang utuh.

Gerak cepat berlangsung, tetapi refleksi “berjalan di tempat,” waktu terisi, namun makna menghilang total. Dalam situasi kompleks di atas, “kosa kata produktivitas” mengalami pergesaran fundamental. Ia tidak lagi menjadi suatu instrumen bagi kehidupan, melainkan “bermetamorfosis” sebagai tujuan yang menuntut pengabdian total. Dengan demikian, manusia hidup aktif dalam dunianya, tetapi “semakin teralienasi terhadap dirinya sendiri.”

Kehampaan dan Penyingkiran Situasi-Batas

Post Views: 416
Bagikan ini :
Halaman Selanjutnya
Jaspers mengafirmasi bahwa manusia justru mulai tersentak pada...
Page 1 of 2
12Next
Previous Post

Momentum Reformasi Birokrasi: 16 Pejabat Pemkab Sangihe Resmi Dilantik

Next Post

Panitia Paskah IKKSU 2026 Berat Sama Dipikul Ringan Sama di Jinjing

Next Post

Panitia Paskah IKKSU 2026 Berat Sama Dipikul Ringan Sama di Jinjing

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ADVERTISEMENT

Alamat Kantor :

Jl. Politeknik, Kelurahan Kairagi II,
Kecamatan Mapanget, Kota Manado,
Sulawesi Utara

No. Telp :
(0431) 7246837 (Kantor)
0882022399555 (Mobile)

  • About Us
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Karir
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Nusantara
    • Hankam
    • Hukum
    • Pemerintahan
    • Politik
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Sulut
    • Manado
    • Minahasa Utara & Bitung
    • Minahasa & Tomohon
    • Minsel – Mitra – Bolmong Raya
    • Kepulauan
  • Kriminal
  • Ekonomi & Bisnis
  • Iptek
    • Pendidikan
  • Olahraga
  • Hiburan
    • Musik
    • Film
    • Pariwisata Budaya

© 2021 Cahaya Siang - Developed by WP Development.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In